Melirik Program One Village One Product di Jepang

Sumber: Freepik

Jepang adalah salah satu negara paling maju di Asia. Bahkan di dunia, produk-produk ekspor dari Jepang termasuk yang diperhitungkan karena identik dengan produk yang memenuhi standar internasional, dan bahkan memiliki kualitas yang sangat tinggi.

Di balik itu semua, Jepang menjadi salah satu negara yang sangat peduli dengan pemerataan ekonomi di negaranya serta pemberdayaan sumber daya manusia di tiap daerah.

Hal ini terbukti dengan diberlakukannya program One Village One Product (OVOP).  Penasaran? Yuk lihat ulasannya.

Program OVOP di Jepang

Sumber: Freepik

Dilansir dari Jetro, OVOP adalah sebuah program yang dikembangkan oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri di Jepang pada tahun 1980-an.

Sebagaimana namanya, program OVOP memiliki tujuan untuk memberdayakan daerah-daerah untuk setidaknya memproduksi special product (produk khas) daerah tersebut yang memiliki kualitas tinggi dan bahkan dapat diekspor ke negara lain.

Dengan diberlakukannya program OVOP, diharapkan semua desa menjadi “berdaya” dan memiliki kontribusi positif terhadap perekonomian negara.

Di sisi lain, program ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah yang mengikuti program OVOP.

OVOP di Oita, Sebuah Titik Balik

Sumber: iovoppa

Konsep One Village One Product (OVOP) pertama kali dikembangkan di Prefektur Oita pada tahun 1980-an. Dari beberapa usaha yang dikembangkan disana, terdapat usaha biskuit yang dijalankan oleh sekelompok wanita.

Dibantu oleh OVOP, usaha biskuit ini berkembang pesat dan bahkan merengkuh pasar nasional. Para wanita yang mengembangkan produk ini juga diajarkan keterampilan baru yang penting dalam menjalankan sebuah bisnis, seperti pemasaran, akuntansi, dan packaging.

Keberhasilan program OVOP di Prefektur Oita ini menjadi modal awal implementasi OVOP di Jepang, dan bahkan di negara-negara lain di dunia.

Bukan Hanya Untuk Jepang

Sumber: Freepik

Sebagai salah satu negara maju di dunia, Jepang merasa bertanggungjawab untuk membantu negara-negara berkembang.

Salah satu bentuk komitmen Jepang dalam hal itu adalah dimulainya inisiatif untuk kampanye OVOP pada tahun 2005.

Keberhasilan Jepang menerapkan program OVOP di Prefektur Oita memungkinkan Jepang “menduplikasi” program OVOP untuk negara-negara berkembang yang membutuhkan.

Beberapa negara yang sudah merasakan manfaat dari kampanye OVOP dari Jepang adalah Afghanistan dan Tajikistan.

Menurut data yang didapat dari UNDP (United Nations Development Programme), dalam kurun waktu hanya 9 tahun,  sudah ada sekitar 1500 penduduk desa yang dilibatkan dalam program OVOP, dan sudah muncul berbagai produk siap jual dari desa tersebut seperti biskuit, madu, selai, dan juga beberapa produk kerajinan tangan.

Pelajaran Bagi Pebisnis Desa

Sumber: Freepik

Dari Jepang, kita bisa belajar bahwa pebisnis desa sebenarnya memiliki peluang yang sangat besar untuk berbisnis.

Apalagi di Indonesia, yang kaya akan budaya, seharusnya tidak sulit untuk menemukan special product (produk khas) di setiap daerah yang bisa dijual di skala nasional, bahkan internasional.

Dan yang paling penting, diperlukan komitmen kuat dari masyarakat serta pemerintah untuk dapat mewujudkannya.

Itulah insight yang bisa Tebi bagikan pada kesempatan ini. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita, para pebisnis untuk berusaha lebih dan lebih lagi.

Bagi yang ingin terus menambah ilmu, jaringan, dan wawasan yuk gabung ke Teman Bisnis Komunitas. Caranya mudah, cukup klik disini.

Bergabunglah bersama kami di Teman Bisnis Komunitas dan jadilah pebisnis luar biasa!

 

Related Posts

Tinggalkan komentar