Jarak

Sumber: Freepik

Sebelum saya lanjutin cerita dari kepingan sebelumnya “Keterdesakan”, saya mau berterima kasih atas kesabaran yang diberikan karena jarak posting-an yang cukup jauh (entah ada yang selama ini nungguin ceritanya atau tidak wkwkw).

Hari ketiga, alias hari lomba pitchbattle (lomba presentasi) menjadi hari penentuan. Pagi harinya, secara tiba tiba saya ingat komponen penilaian yang terdiri dari 70% penjurian dan 30% postingan twitter.

Langsung saja di pagi itu saya berikhtiar mengejar 30% komponen penilaian. Sembari kirim broadcast, saya ulang-ulang hapalan pitching saya.

 

Sumber: Freepik

Saya cukup yakin terkait hapalan teks dan ketepatan waktu, tapi ketenangan hati lain cerita. Saya sempurna tidak nafsu makan hari itu, udh deg-degan dari pagi haha (harap maklum, ini pengalaman pertama saya pitching di depan ratusan orang). Alhamdulillahnya, saya sedang Puasa Daud saat itu.

Di perjalanan menuju JW Marriott saya dapat e-mail dari panitia bahwa jatah pitching yang awalnya 3 menit berubah menjadi 2 menit.

Waduh, jujur saja, saya sempat panik. Tapi dengan sabarnya Kak Jae bilang bahwa teks presentasi saya sebenernya bisa dibuat 2 menit asalkan tidak terlalu banyak jeda. Baiklah, saya latihan lagi dari awal.

Ada hal menarik yang saya alami saat Sholat Zuhur hari itu. Al-Fiil (Tentara Gajah) menjadi surat pendek yang secara spontan saya baca. Saat itu, selama beberapa detik, saya seperti dihadapkan pada masa kelahiran Nabi.

Ada hal besar yang terjadi: serangan Pasukan Gajah Abraham ke Mekkah. Dengan elok, Allah gambarkan dalam surat Al-Fiil bagaimana Dia menyelamatkan Ka’bah saat itu.

Seakan-akan beberapa detik dalam sholat menyingkap jarak waktu antara kondisi yang kualami saat ini dan yang dihadapi oleh Abdul Muthalib saat itu.

Ya, tantangan dan masalah yang kuhadapi tidak sebesar tentara gajah. Masalah sebesar tentara gajah yang secara logika bisa meluluhlantakkan Ka’bah saja Allah atasi dengan cara yang luar biasa, bagaimana dengan masalahku yang ‘cuma’ ngomong di depan umum selama 2 menit?

Kepercayaan diriku kembali terbentuk. Energi baru mendorongku untuk rileks dan presentasi dengan tenang di atas panggung. Setiap pertanyaan juri berhasil dijawab dengan cepat dan apa adanya.

Seusai pitching, saya memilih keluar dari ruangan dan langsung Sholat Ashar. Tiba-tiba kangen sama Allah melebihi apapun.

Pengumuman pemenang dilakukan tidak lama setelah saya selesai Sholat Ashar. Bagaimanapun saya sudah mencoba melakukan yang terbaik dan memohon pada yang Maha Baik.

Hingga saat pengumuman dan nama TemanBisnis disebut sebagai pemenang pertama, hanya satu hal yang bisa saya lakukan detik itu: Sujud Syukur. Sujud yang menghilangkan jarak antara makhluk dan Penciptanya, bentuk pengakuan bahwa saya tidak bisa apa apa tanpaNya.

Artikel ini pertama kali terbit disini.

Related Posts

Tinggalkan komentar