3 Alternatif Mencatat Pengambilan Pribadi Sesuai Prinsip Akuntansi

Sumber: Freepik

Pengambilan pribadi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam bisnis, terlebih-lebih untuk bisnis pribadi atau bisnis keluarga. Adanya pengambilan pribadi dalam bisnis menghadirkan konsekuensi akuntansi tersendiri.

Pengambilan pribadi sendiri berarti pengambilan uang/harta bisnis oleh pemilik bisnis untuk keperluan pribadi. Berikut ini beberapa alternatif pencatatan pengambilan pribadi yang dapat anda praktikkan untuk pencatatan keuangan bisnis anda.

Alternatif 1: Tidak Dimasukkan Laporan Laba Rugi

Sumber: Freepik

Alternatif ini adalah yang paling awam dilakukan sekaligus merupakan best practice untuk mencatat pengambilan pribadi. Pada alternatif ini, pengambilan pribadi diidentifikasi sebagai prive.

Karena pengambilan pribadi pada alternatif ini diidentifikasi sebagai prive, maka pencatatannya disamakan dengan cara mencatat prive yakni tidak dimasukkan dalam laporan laba rugi.

Sebagai contoh, Tuan Joni mengambil uang kas dari usahanya sebesar Rp 1.000.000 yang akan digunakan untuk membayar SPP anak Tuan Joni. Atas transaksi ini, dicatat jurnal sebagai berikut:

Debit (Dr)  Prive – Tuan Joni        Rp 1.000.000

Kredit (Cr) Kas                                                                   Rp 1.000.000

Prive yang dicatat di sisi debit tidak akan masuk sebagai beban dalam laporan laba rugi, namun akan menjadi pengurang modal yang akan diperhitungkan di laporan perubahan modal. Mengapa demikian?

Hal ini karena prive dianggap hal diluar operasional bisnis sehingga tidak diperhitungkan dalam laporan laba rugi. Dikhawatirkan jika prive masuk sebagai beban, akan memengaruhi laba/rugi bisnis.

Padahal, boleh jadi bisnis secara normalnya menguntungkan, namun karena prive yang diambil terlalu banyak sehingga seolah-olah bisnis mengalami kerugian.

Dengan memisahkan prive dari laporan laba rugi diharapkan memperjelas mana keuntungan/kerugian yang berasal dari operasional bisnis, mana penambahan/pengurangan modal karena adanya pemberian dana/pengambilan dana dari pemilik bisnis.

Alternatif 2: Dicatat Sebagai Piutang

Sumber: Freepik

Alternatif ini bisa juga dijadikan pilihan untuk mencatat pengambilan pribadi pemilik bisnis walau memang jarang digunakan. Dengan menggunakan alternatif ini, bisnis memperlakukan pengambilan pemilik sebagai piutang.

Sebagai contoh, jika menerapkan kasus yang sama seperti alternatif 1, maka didapat pencatatan jurnal sebagai berikut:

Dr. Piutang – Tuan Joni                  Rp 1.000.000

Cr. Kas                                                                                  Rp 1.000.000

Dengan menggunakan alternatif ini, perusahaan menganggap pengambilan pemiliki sebagai piutang bagi perusahaan. Konsekuensinya, pengambilan pemilik dianggap sebagai pinjaman/utang pemilik dan harus dikembalikan lagi ke perusahaan.

Pencatatan model ini dapat dijadikan alternatif jika dan hanya jika pemilik usaha berkomitmen untuk tidak “mengganggu” arus kas dan arus modal usahanya sehingga pengambilan harta/kas perusahaan sekecil apapun harus dikembalikan lagi kepada perusahaan.

Alternatif 3: Langsung Dicatat Sebagai Pengurang Modal

Sumber: Freepik

Alternatif ini sebenarnya hampir sama dengan alternatif 1, bedanya pada alternatif 1 perhitungan prive sebagai pengurang modal baru dilakukan di akhir periode sedangkan pada alternatif ini modal akan langsung berkurang saat pengambilan dilakukan oleh pemilik.

Dengan menggunakan kasus yang sama, jika kita menggunakan alternatif ini maka pencatatan akan menjadi sebagai berikut ini:

Dr. Modal – Tuan Joni                    Rp 1.000.000

Cr. Kas                                                                                  Rp 1.000.000

Alternatif ini memang menghadirkan kemudahan dalam pencatatan, namun sebagai catatan alternatif ini nantinya tidak memungkinkan pembedaan antara pengurangan modal karena kerugian usaha dan pengurangan modal karena pengambilan pemilik.

Related Posts

Tinggalkan komentar